Pulau Tidung: Aksi Kecil untuk Negeriku

Menjadi negeri kepulauan terbesar di dunia adalah anugerah sekaligus tantangan bagi Indonesia. Anugerah apabila kita dapat memaksimalkan pemanfaatan sumber daya alam yang ada baik yang teresterial maupun yang di laut. Sebaliknya, akan menjadi tantangan apabila kita masih berparadigma darat, cenderung mengabaikan laut sehingga laut diposisikan sebagai pemisah pulau-pulau (di negeri kepulauan) bukannya sebagai pemersatu atau penghubung.

Paradigma darat telah menyulap pulau-pulau utama seperti Jawa, Bali, Sumatera dsb. menjadi lebih baik lagi dan lebih modern, sementara pulau-pulau kecil yang sebagian besar kehidupan warganya adalah kehidupan bahari tetap tertinggal. Seakan tak mungkin menang melawan pulau-pulau utama yang berperan sebagai mobil-mobil F1 sementara mereka (pulau-pulau kecil) cuma beralatkan mobil-mobilan kayu.

Pada bulan Oktober tahun 2016 lalu saya berkesempatan untuk mengikuti kegiatan Ekspedisi Nusantara Jaya (ENJ) sebagai anggota tim ENJ chapter Universitas Indonesia dan untuk kali pertama saya mengunjungi gugus pulau-pulau kecil di sebelah utara Jakarta, Kepulauan Seribu. Kami dari tim ENJ chapter Universitas Indonesia ditempatkan di Pulau Tidung.

Sejujurnya saya merupakan sekian dari orang-orang yang berparadigma darat. Hal itu mungkin disebabkan karena saya lahir dan dibesarkan di daerah bergunung-gunung di pedalaman Bengkulu (Tanɕak Jang). Hidup jauh dari laut, bepergian dari satu tempat ke tempat lain semuanya dilakukan dengan moda transportasi darat membuat saya ‘asing’ dengan laut. Ditambah dengan omongan dari mulut ke mulut bahwa laut adalah tempat yang berbahaya, dapat menyebabkan tsunami, sampai pada kisah Nyi Roro Kidul sang ratu Pantai Selatan. Laut benar-benar asing.

Sepanjang perjalanan menuju Pulau Tidung saya ternyata sangat menikmati setiap momen berada di atas kapal. Entah itu berbincang-bincang dengan warga lokal yang kebetulan sekapal dengan kami atau bermain kartu bersama personel-personel ENJ chapter Universitas Indonesia.  Semakin jauh dari pesisir Jakarta laut semakin biru dan bersama dengan itu pula jiwa saya pun semakin tenang. Apabila kita mau mengenal laut, kenali ia dari dekat, bukannya dari ucapan mulut-mulut tak bertuan. Laut tidak semenakutkan apa yang saya (dan anda) bayangkan.

Pulau Tidung terdiri atas dua buah pulau. Tidung Besar di sebelah barat yang memiliki populasi ± 4.000 jiwa serta Tidung Kecil, sebuah pulau konservasi yang ukurannya lebih kecil dan hanya dihuni beberapa personel dari Dinas Pertanian dan Kelautan DKI Jakarta. Kami mendarat di pulau tujuan ekspedisi tahun ini di dermaga Tidung Kecil. “Aduhai perawan sekali laut membiru dan formasi tetumbuhan khas pesisir di sini. Siapa sangka tempat sebagus ini masih bagian dari Jakarta (Jakarta pada umumnya: KRL, hutan beton, Monas, Bangi Kopi Tiam Sabang dsb)” pikir saya.

Setelah dua hari berada di Pulau Tidung Kecil saya baru menyadari kalau sepanjang dari depan mess yang kami tempati menuju Jembatan Cinta di sisi kiri jalan (dari arah mess) dipenuhi tanaman yang saya tidak tahu jenisnya yang ditanam dalam polybag. Dan dari bincang-bincang singkat dengan Pak Erick, warga asli Tidung, saya mengetahui kalau yang ditanam dalam polybag tersebut adalah bibit pohon bakau atau mangrove.

Hasil kerja keras dan support seluruh Tim ENJ Universitas Indonesia akhirnya peta wisata Tidung selesai (Dokumentasi Tim ENJ Universitas Indonesia)
Berkat hasil kerja keras dan support seluruh Tim, akhirnya peta wisata Pulau Tidung selesai. (Dokumentasi Tim ENJ Universitas Indonesia)

Selama mengikuti kegiatan ENJ di Tidung, saya tergabung sebagai anggota tim ekonomi-kreatif yang memiliki program untuk memperkenalkan alternatif pemanfaatan potensi buah kelapa di Tidung Besar maupun Tidung Kecil menjadi minyak kelapa murni serta program pembuatan website untuk mewujudkan pemerintah yang transparan dan promosi wisata resmi. Eits, saya lupa kalau tim ekonomi-kreatif juga berupaya membuat peta wisata Pulau Tidung.

Walaupun pada dasarnya saya merupakan anggota tim ekonomi-kreatif, saya sangat tertarik dan ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh tim pendidikan dan tim kesehatan lingkungan. Ketertarikan pada kegiatan lingkungan barangkali tumbuh karena saya ditempa melalui magang di Divisi Lingkungan dan Pendampingan Masyarakat (LPM) selama pendidikan calon anggota Mapala Universitas Indonesia.

Di hari ke-7, dua hari sebelum kepulangan kami tim ENJ chapter Universitas Indonesia, tim pendidikan mengadakan aksi Save Tidung dengan programnya yaitu penanaman bibit pohon bakau atau mangrove di pagi hari dan transplantasi koral di sore hari saat matahari beranjak terbenam. Dalam aksi Save Tidung, saya terlibat sebagai relawan pengadaan bibit bagi para peserta tanam bakau atau mangrove yang terdiri dari siswa-siswi SMK Negeri 61 Jakarta. Saya ikut mengumpulkan bibit-bibit bakau di Tidung Kecil dan membawanya ke Tidung Besar tempat aksi dilakukan serta ikut menanam bibit pohon bakau. Kemudian di sore harinya saya mengikuti kegiatan yang sama dengan fokus pada transplantasi koral di Saung 2, Pulau Tidung Kecil

Menanam bakau atau mangrove ternyata bukan perkara mudah. Arus air yang cukup kencang dapat menyebabkan bibit-bibit bakau yang teah ditanam tercabut dan hanyut. Sehingga, untuk mengantisipasi hal yang demikian kami menggunakan tuguk (semacam tonggak bambu) sebagai penunjang bibit yang ditanam dengan cara bibit bakau diikat ke tuguk menggunakan seutas tali.

Penanaman Bibit Mangrove sebagai Bagian dari Aksi Save Tidung
Penanaman Bibit Mangrove sebagai Bagian dari Aksi Save Tidung. (Dokumentasi Pribadi)

Aksi Save Tidung mengingatkan kembali saya pada materi-materi pelajaran ilmu alam di bangku SD dahulu. Bakau atau mangrove adalah salah satu sabuk hijau pesisir yang bermanfaat tidak hanya sebagai pelindung pantai dari abrasi namun juga bermanfaat sebagai rumah atau habitat udang, berbagai jenis ikan, kerang, dan hewan-hewan laut lainnya sehingga nelayan Pulau Tidung yang berjumlah 30% dari total populasi pulau dapat terbantu. Karena hampir semua nelayan asal Pulau Tidung merupakan nelayan pancing, bukan nelayan jaring sehingga seperti sekarang ikan tidak banyak lagi tersedia di sekitar pantai Pulau maka nelayan harus melaut sejauh 10-30 mil.

Adapun esensi dari penanaman bakau atau mangrove di Pulau Tidung adalah sebagai bentuk tanggapan dini atas kemungkinan naiknya muka air laut yang berdampak akan menenggelamkan pulau-pulau di Kepulauan Seribu. Hal ini relevan dengan paradigma darat pada kebanyakan orang bahwa pulau yang tenggelam atau pulau yang terabrasi berarti mengancam eksistensi daratan itu sendiri sebagai media tempat manusia hidup dan melangsungkan kehidupannya.

Lebih lanjut, penanaman bakau atau mangrove pun sebenarnya bisa dijadikan suatu kegiatan wisata tersendiri dalam paket wisata edukasi mangrove sebagai pelengkap jenis-jenis atau aspek-aspek wisata yang telah ada seperti banana boat, snorkeling, etc. Sebagaimana kita ketahui bahwa sejak tahun 2009 dan tourist boom tahun 2010 bahwa kira-kira 20% warga Pulau Tidung menggantungkan hidup mereka pada usaha travel dan lain-lain yang berkaitan dengan wisata. Kegiatan penanaman bakau atau mangrove di Pulau Tidung dapat dibilang diuntungkan dengan ketersediaan plasma nutfah bibit-bibit bakau yang cukup melimpah di Pulau Tidung itu sendiri serta kemampuan putra asli Tidung yang cukup andal atau mengerti mengenai penanaman bakau atau mangrove serta koral.

Pada hari yang sama kira-kira pukul 16.00 WIB, kegiatan yang sama yakni aksi Save Tidung khusus kegiatan tranplantasi koral dilaksanakan. Pepatah everybody is lessons saya rasakan dalam kegiatan transplantasi koral yang diinisiasi tim pendidikan ENJ chapter Universitas Indonesia. Dalam obrolan dengan Pak Erick (lagi) dan Bang Untung serta Mas Syahrul, saya mengetahui bahwa koral yang akan kami transplantasikan di hari tersebut bukanlah tumbuhan melainkan hewan. Seketika materi-materi ilmu alam selama SD dahulu kembali lagi, menari-nari seakan berbicara bahwa koral adalah hal yang penting dan menjaganya merupakan hal yang penting pula.

Penanaman Coral Baby di Pulau Tidung Besar
Penanaman Coral Baby di Pulau Tidung Besar (Dokumentasi Tim ENJ. Universitas Indonesia)

Pulau Tidung sebagai salah satu daerah wisata andalan di Kepulauan Seribu dapat memanfaatkan kegiatan-kegiatan pro-lingkungan seperti transplantasi koral untuk menjadi paket wisata sehingga memperkaya jenis-jenis wisata yang dapat dinikmati turis di Pulau Tidung sebagaimana halnya potensi yang sama juga bisa diterapkan pada penanaman bakau.

Selain manfaat-manfaat ekonomi, manfaat ekologi juga ditunjukkan oleh pentingnya transplantasi koral terutama untuk mengganti koral-koral yang rusak (seringkali imbas dari pariwisata). Koral bersama bakau atau mangrove mampu menjadi pelindung Pulau Tidung dari abrasi serta menjaga keindahan alam Pulau yang berstatus sebagai daerah wisata tersebut.

Laut, ia tak lagi asing. Ia adalah penghubung sekaligus pemersatu kita (sebuah bangsa bahari). Laut adalah anugerah, dengan ikan yang melimpah ruah serta berton-ton sumber mineral yang menanti untuk digali demi kebermanfaatan umat manusia. Mari kita lakukan aksi pelestarian lingkungan –laut-  walaupun yang kita lakukan belumlah ber-impact besar. Setidaknya telah  kita turut memelihara Ibu Pertiwi dan tidak menyesal karena terlambat berkontribusi.

Ini kontribusi dan ceritaku, mana ceritamu?

Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s