Voluntrip Writing Challenge – Kapan Anda Merasa Tidak Ada Masalah

Ini sejujurnya merupakan postingan udah telat pake banget. Sebuah tulisan yanng lahirnya dipacu dari sebuah race gila-gilaan ala anak-anak Voluntrip Round 3 Dompet Dhuafa, baik para ‘mantan’ relawan maupun ‘mantan’ panitia. Tulisan-tulisan peserta writing challenge yang lain keren-keren aduhai sob. Beda deh pokoknya ama tulisan di bawah ini yang kesyahduannya agak kurang. Hehehehe. Apabila ada komentar atau kritikan terhadap penggunaan bahasa yang baik dan benar, kutunggu ya. Ciao.

Aku menyadari bahwa hidup sebagai seorang Fikri tidaklah mudah. Sedari dini sudah banyak masalah yang ku temui dan (nyaris sendiri) ku hadapi. Masalah-masalah itu datang silih berganti. Yang satu datang dan kemudian pergi, datang pula yang lain, begitu seterusnya.

Sebagai seorang anak yang digembleng untuk menaati rambu-rambu keagamaan dan hampir setiap hari diingatkan mengenai kekuasaan Allah. SWT, aku yakin bahwa setiap masalah adalah ujian yang pasti bisa ku handle, ujian yang akan mengantarkan ku be a better me.

Pernah dulu ku dengar dari seorang Ustadzah, beliau kurang lebih berkata “Allah tidak akan menimpakan kamu-kamu sekalian beban melebihi kemampuan hambanya”. Ujaran dari sang Ustadzah tadi ternyata cocok dengan nilai-nilai yang ditanamkan oleh keluarga besarku bahwa kami harus berusaha keras agar berhasil di masa mendatang, membawa nama baik keluarga, dan dapat menolong orang lain. “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu mengubah nasibnya sendiri, Allah tidak akan mengubah nasib keluarga Pik sebelum Pik yang mengubah nasibnya sendiri”, begitu kata tetua keluarga yang sedikit banyak masih ku ingat.

Aku secara gambling percaya bahwa ujian dari Allah berupa masalah yang datang silih berganti ialah bentuk challenge  agar aku tidak mager untuk berusaha mengubah nasib keluarga. Tapi aku salah. Tidak semua masalah yang datang bisa ku hadapi. Dengan kata lain, menurutku “ujian yang diberikan takkan melebihi kemampuan hambanya” hanya fiktif belaka.

Atas beberapa masalah yang ku rasa tak lagi sanggup ku lawan, ku kelola, pun ku hadapi, aku seringkali putus asa, seringkali jatuh bangun dalam keputusasaan dan kondisi hanya menyalahkan serta serba tak termotivasi. Walaupun demikian, seorang Fikri yang susah banget dihubungi oleh panitia DDV Voluntrip, dicari-cari seantero jurusan Sejarah karena sering ga masuk, dan diburu oleh anak-anak Mapala karena LPJ yang ga selesai ini berdiri di hadapan kalian semua sebagai tanda bahwa ia akhirnya menang dari keputusasaan. Ia berhasil bangkit dari kubangan lumpur tak termotivasi samsek.

Sebagai seorang yang teramat sering berputus asa, ku rasa bahwa keputusasaanku tidak konsisten alias berubah seiring berjalannya waktu. Hm, kalau boleh kita ajukan pertanyaan, lantas hal apa yang berubah dari keputusasaanmu seiring berjalannya waktu wahai Fikri? Jawabku ini barangkali sangat subjektif. Aku merasa bahwa saat dulu aku putus asa dalam menghadapi masalah dan kalah serta membiarkan diriku diperkosa oleh masalah-masalah tersebut, aku kerapkali melakukan apa yang Ka Zeni Hadiqoh sebut sebagai internal aggression. Dulu, aku sering memikirkan untuk bunuh diri dan melakukan hal-hal lain yang agak membahayakan. Keputusasaanku saat itu membuat aku menjadi seseorang yang bermental permen karet, diganggu anak perempuan pun menangis tersedu-sedu. Di kelas aku sering hanya duduk diam dan mendengar ceramah guru, sekalipun aku tahu jawaban pertanyaan yang beliau tuliskan di papan tulis, aku ragu untuk mengacugkan tangan dan atau menjawab pertanyaan tersebut.

Lantas Fik, apa sih perubahannya? Kok yang kamu ceritakan malah masalah SD-lah, kamu dulu takut biarpun Cuma diganggu anak perempuan-lah, bla bla bla. Waktu berganti waktu, mengutuki keadaan dan melakukan internal aggression mulai terasa kuno, kayak rumah Nobita yang dari dulu itu itu saja hehehehehe. Sejak masuk ke salah satu SMP favorit di daerahku, aku menemukan beberapa kawan yang dibilang sahabat juga nggak bisa. Aku mulai mengenal friend zone, circle, dll yang sejak kuliah ini terasa KUNO! Kalau aku putus asa, aku akan bercerita mengenai masalah yang ku hadapi sampai terasa lega dan sejurus kemudian meminta agar diberikan masukan-masukan. Tapi ingat, tidak semua masukan yang ku terima ku aplikasikan dalam proses menghadapi masalah. Masukan-masukan yang se-abreg dan kadangkala berbenturan satu sama lain itu ku seleksi. Tahap seleksinya ada dua, pertama seleksi berkas, yang lolos selanjutnya diwawancara. Hehehehehe, tapi bo’ong kok. Masukan yang paling bijaklah yang ku ambil. Kriterianya? Cari ndiri dong vrooh.

263770Januari 2017, ini artinya 3 tahun sudah perjalananku menimba ilmu di salah satu kampus yang menyandang nama besar bangsa. Dalam kurun waktu tersebut, kampusku mengajarkan banyak pelajaran mengenai hidup yang belum ku dapat di fase-fase pendidikan sebelumnya. Pun belum ku dapat dari ceramah silih berganti dosen yang mengajar kami, mahasiswa Ilmu Sejarah UI. Kampus mengajarkan bahwa “my future in my own hand, do not curse the condition and your past, let’s move on and keep fighting”. Sekarang aku agak pede untuk menyelesaikan setiap masalah yang ada (insha Allah) secara bijak. Perlahan, sedikit demi sedikit masalah yang datang terselesaikan. Bahkan tak jarang aku melewati hari-hari yang (seakan) tidak ada masalah. Tantangan-tantangan kecil pastinya ada, tetapi kalau masalah yang bisa bikin seorang Fikri sampai terpikir untuk bunuh diri mah alhamdulillah ga ada lagi.  Atas hal tersebut, terima kasih ku ucapkan atas segala kru dan produser proses penyelesaian masalah M. Fikri Ansori, Tuhan (bagi yang percaya) memberkati.

Nah, sampailah kita pada sesi jawaban dari pertanyaan penelitian, eh salah, pertanyaan tema Voluntrip Writing Challenge hari ini yaitu Kapan Anda Merasa Tidak Ada Masalah? Hm, sebenarnya pertanyaan tema yang satu ini agak sulit untuk dijawab. Bahkan Ka Botih yang sejago itu, iya sejago itu, aja di grup bilang kalau dia mau skip untuk yang satu ini. Payah banget ya si Ka Botih, wkwkwkkw, 누님 미안하다.

Ups, kok aku jadi ngomongin Ka Botih ya guys? Lupakan dia, ingatlah aku! Aku mau cerita lagi. Kapan sih aku merasa tidak ada masalah? Jawab di bawah ini kemungkinan besar akan subjektif nih guys.

Saat ini, aku sedang menempuh perkuliahan di rimba Ilmu Sejarah, Universitas Xxxxxxxxx dengan harapan akan menjadi sejarawan (ahli sejarah) nomor satu sepanjang masa di nusa persada Indonesia raya tercinta :D. Dulu, keinginanku untuk masuk menjadi mahasiswa jurusan yang katanya ga bisa move on ini sangat menggebu-gebu, kayak Sultan Agung mau menaklukkan Batavia yang indah. Ternyata eh ternyata guys, kuliah di jurusan sejarah ternyata tidak segampang menghafal isi buku mengenai Candi Borobudur, Kerajaan-kerajaan Hindu-Budha, manusia purba, masuknya Jepang, rempah-rempah, serta sederet nama tokoh dan tanggal (+ bulan dan tahun :p). Kami bahkan harus belajar bahasa Belanda (kuno) yang susah sekali. Coba diterjemahkan pakai translate.google.com ga bisa, huft sedih :D.

Serba-serbi perkuliahan yang membikin penat ternyata bisa jadi masalah lho guys. Belum lagi ada masalah-masalah lain. Belum lagi kalau kita sendiri juga trouble emaker, duh bisa berabe nih. Ketika ada waktu libur yang lumayan panjang, aku memilih untuk rehat dan lari sejenak dari segala perihal kehidupan kampus. Mapala UI ku lupakan sebentar, Sejarah UI ku hapus sebentar dari kepala ini, kalau DDV mah tidak J.

Ketika aku pulang kampung inilah aku merasakan bahwa aku serasa tidak ada masalah. Melepas rindu dengan ibu, bapak, dan adik di rumah, belum lagi segerombolan sanak-saudara yang rumahnya satu per satu ku kunjungi, aku merasa benar-benar tanpa masalah. Makanan-makanan pedas seperti tempoyak, lema, dan caluk, komunitas yang berbahasa yang satu bahasa Rejang, serta cuaca kampungku Curup yang bersahabat benar-benar terasa seperti pijat relaksasi yang menyegarkan tubuh dari penat berbagai masalah. Reuni dengan kawan-kawan sedari SD, SMP, dan SMA yang sering mengundang tawa serta kerinduan melengkapi pijat relaksasi yang akhirnya membuang semua masalah ke penyimpanan sementara. Masalah-masalah tersebut akan di-postponed dan kemudian bermasalah lagi selepas masa liburan usai, yuhuuuuuuuuu.

Mungkin banyak orang yang merantau dari kampong masing-masing ke tanah perantauan di Jawa, khususnya Jakarta dan kemudian berhasil di perantauan. Berhasil di tanah rantau, dari kacamata yang ku lihat berarti tidak pulang ke kampung. Kampung mulai terlihat kampungan J. Nah, bagiku sebaliknya. Kampung bukanlah hal yang serba kampungan. Memiliki kampung (di mana pun kampung itu berada) berarti memiliki sesuatu yang patut diperjuangkan, dalam hal ini di kampungku di sana berkumpul ibu, bapak, adik, sanak-saudara, kawan-kawan satu sekolah, guru-guru yang demikian hebat dan melalui ilmunya beliau-beliau tersebut memperhebat kami, semua ada di kampung. Aku akan berjuang demi mereka dan kalau pun nanti aku berhasil, keberhasilanku ku harap dapat menjadi jalur terang agar lebih banyak yang menyusul dan berhasil.

Ah, kampung. Ketika aku di sana semua masalah terasa tiada, yang ada hanya kasih sayang dan kesedihan akan beratnya kerja ibu dan bapak demi menghidupi diri ini. Di kampung pula aku merindukan Depok dengan segala kesemerawutannya, tempat kuliah sekaligus tempat belajar dengan segala masalah yang perlu dihadapi dengan bijak agar benar-benar menjadi pribadi yang berguna bagi kampung halaman.

Sekarang aku di dalam gerbong I Kereta Api Serelo jurusan Lubuk Linggau-Kertapati (Palembang), sebuah perjalanan yang kecil dari perjalanan yang lebih besar, pulang ke Depok dan menemui kalian semua sehabis merasakan manisnya masa liburan, masa yang (serasa) tanpa masalah, didekap kasih sayang dan peluk cium sanak saudara.

Palembang, then Depok, I am coming.

 

1/20/2017

Kereta Serelo Jurusan Lubuk Linggau-Palembang

Salamku,

 

 

Fikri

Advertisements

2 thoughts on “Voluntrip Writing Challenge – Kapan Anda Merasa Tidak Ada Masalah

    1. Ka Nia pa kabar @alaniadiata
      Maaf baru sempet bales Kak. Wkwkwk, masa iya suka? Masih acak-acakan gitu tulisannya hhehehehe 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close