Dinamika Perkembangan Komunitas India di Jakarta: Sebuah Tinjauan Sejarah 1955-2011 (Proposal Penelitian)

Dinamika Perkembangan Komunitas India di Jakarta: Sebuah Tinjauan Sejarah 1955-2011
Diajukan oleh: Fikri Ansori, 1406565316
Dosen Pembimbing: Dr. Didik Pradjoko, M.Hum.

Latar Belakang
Sejatinya hubungan antara India dan Indonesia telah terjalin sejak berabad-abad yang lalu.Hubungan keduanya pada awalnya dimulai dari sektor perdagangan.Banyak pedagang-pedagang India bersama pedagang-pedagang asing lainnya yang datang menyinggahi pelabuhan-pelabuhan di Nusantara. Kemudian, sivilisasi bangsa Indonesia yang ditandai dengan berdirinya kerajaan Hindu-Budha, dikenalnya huruf Pallawa sebagai bahasa tulis, serta penggunaan bahasa Sanskrta pada upacara keagamaan merupakan bukti bahwa jalinan hubungan antara India dan Indonesia tersebut telah berlangsung lama.

Berbicara mengenai komunitas diaspora India kita tidak dapat merujuk pada satu suku bangsa saja karena penduduk anak benua India sama halnya dengan Indonesia, berbilang kaum alias majemuk. Setiap daerah diwakilkan oleh suku bangsa dengan agama, adat istiadat, bahasa, dan warna kulit yang acap kali berlainan satu sama lain. Suku bangsa dari anak benua India yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah komunitas Tamil (mayoritas beragama Hindu) yang berasal dari kawasan India Selatan, Negara bagian Tamil Nadu, dan komunitas Punjab atau Punjabi (mayoritas beragama Sikh) yang berasal dari kawasan India Utara, Negara bagian Punjab dan Pakistan.

Sejarah dan penulisan mengenai komunitas India di Indonesia masih belum begitu banyak, terutama yang spesifik membahas komunitas India di Jakarta dan bagaimana dinamika perkembangannya.Suku bangsa Tamil mulai datang ke Indonesia pada pertengahan abad ke 19, yakni sekitar tahun 1830.Mereka datang sebagai pekerja kasar dan buruh perkebunan pada perusahaan-perusahaan perkebunan swasta Belanda di Tanah Deli.

Umumnya etnis Tamil berasal dari kelas atau status sosial ekonomi rendah dan tidak terpelajar. Mereka dibujuk untuk datang ke Tanah Deli dengan cerita tentang kekayaan dan kesuburan Tanah Deli serta dijanjikan akan mendapatkan pekerjaan mudah dengan bayaran tinggi pada industri perkebunan yang berkembang pada masa itu.[1] Pada kenyataannya mereka tidak mendapatkan seperti apa yang dijanjikan. Mereka dipekerjakan sebagai buruh kasar dengan beban kerja yang sangat berat tetapi gaji yang diperoleh rendah.Mereka juga menempati perumahan yang tidak layak.Mereka banyak diasosiasikan dengan pekerjaan kasar, seperti kuli perkebunan, kuli pembuat jalan, penarik kereta lembu, dan pekerjaan-pekerjaan lainnya yang lebih mengandalkan otot.Hal ini terkait dengan latar belakang orang Tamil yang datang ke Medan, yaitu mereka yang berasal dari golongan rendah di India, yang tentu saja memiliki tingkat pendidikan yang amat rendah pula.[2] Orang Tamil terus bekerja pada perusahaan-perusahaan perkebunan sampai pada akhirnya pecah Perang Dunia Kedua. Selepas Perang Dunia Kedua, banyak orang Tamil yang meninggalkan perkebunan dan saat ini fokus pada usaha perekonomian bidang perdagangan rempah-rempah atau sebagai kontraktor pembangunan. Komunitas India (Tamil) sampai sekarang dalam jumlah yang besar masih dapat ditemui di Sumatera Utara, yang di masa lalu dikenal oleh orang-orang Tamil sebagai Tanah Deli.Dan beberapa ratus jiwa orang Tamil lainnya hidup di Jakarta.

Orang Punjabi yang beragama Sikh sudah hadir di Sumatera Utara sejak awal perkebunan tembakau dibuka.Asal-usul mereka dapat ditelusuri ke Amritsar atau Jullundur di kawasan Punjab, India.Mereka biasanya datang ke Deli untuk beberapa tahun dan kembali ke India untuk menikah, lalu membawa isterinya kembali ke Sumatera. Di Sumatera Utara mereka banyak bermukim di kota Medan, Binjai, dan Pematang Siantar. Pada umumnya dulu mereka bekerja sebagai pengawas dan pengantar surat di perkebunan, serta memelihara ternak sapi.Sebagaimana halnya orang Tamil, orang Punjabi dalam jumlah ratusan jiwa juga bermukim di Jakarta.

Pada tahun 1925 sebenarnya telah berdiri sebuah gurdwara di kawasan Tanjung Priok.[3] Gurdwara adalah rumah ibadah agama Sikh, agama yang mayoritas dipeluk komunitas India (Punjabi) di Indonesia dan juga Jakarta.Gurdwara bukan hanya sebagai rumah ibadah semata, lebih dari itu gurdwara telah menjadi semacam garda pengawal kebudayaan Punjabi itu sendiri. Pada tahun 1955, di salah satu kawasan di tengah kota Jakarta didirikanlah sebuah gurdwara lagi sebagai pelengkap gurdwara yang sudah ada di Tanjung Priok dan gurdwara yang dikenal sebagai Sikh Temple ini tergolong besar dan menjadi yang paling utama.

Pada tahun 2011, komunitas India (Tamil) di Jakarta mendirikan Indonesian Tamil Sangam (ITS) yang menjadi tonggak baru dinamika kehidupan keturunan Tamil di Jakarta.[4] ITS akan menjadi wadah pergerakan dalam rangka pelestarian budaya Tamil di tengah kemajemukan masyarakat Indonesia.[5]

Rumusan Masalah
Permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah mengenai dinamika perkembangan komunitas India di Jakarta . Untuk menjawab permasalahan tersebut, maka diajukan beberapa pertanyaan penelitian seperti

  1. Bagaimana awal kedatangan orang India ke Indonesia?
  2. Bagaiman kehidupan komunitas India di Jakarta pada awal masa kemerdekaan Indonesia?
  3. Bagaimana dinamika perkembangan komunitas India di Jakarta sampai dengan tahun 2011?

Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemaparan mengenai dinamika perkembang komunitas India di Jakarta, mulai dari awal kedatangan ke Indonesia sampai dengan tahun 2011.Selain itu, penelitian ini dapat menambah khazanah penulisan sejarah di Indonesia khususnya mengenai komunitas diaspora India.

Ruang Lingkup Penelitian
Agar penelitian ini tidak melebar, maka pembatasan perlu dilakukan.Pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah dengan melihat pembangunan Masjid Istiqlal pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, yaitu tahun 1961 sampai dengan 1967. Tahun 1961 dipilih karena bertepatan dengan tahun pemancangan batu pertama oleh Presiden sebagai awal peresmian pembangunan, tepatnya 24 Agustus 1961 yang bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Sedangkan tahun 1967 dipilih sebagai tahun berakhirnya masa kepemimpinan Presiden Soekarno.

Metode Penelitian
Metode penelitian yang akan digunakan adalah metode sejarah, yaitu proses menguji dan menganalisis secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau. Tahap pertama metode sejarah adalah heuristik, yaitu pengumpulan data terkait topik yang akan diteliti. Melalui tahap heuristik ini, peneliti akan mencari dan mengumpulkan sumber-sumber penunjang penelitian baik sumber primer maupun sumber sekunder.

Sumber-sumber baik sumber primer maupun sumber sekunder yang telah diperoleh pada tahap heuristik selanjutnya harus melalui tahapan kritik sejarah. Tahap ini bertujuan untuk melihat kredibilitas dan otentisitas sumber yang akan digunakan. Tahap kritik terdiri atas dua macam, yaitu kritik eksternal dan kritik internal. Kritik eksternal dilakukan dengan cara meneliti bentuk atau kondisi fisik sumber data yang diperoleh, sehingga dapat diketahui apakah sumber tersebut asli atau palsu. Sementara kritik internal dilakukan dengan cara melakukan penilaian intrinsik terhadap sumber data, membandingkan antara data yang satu dengan data yang lain sehingga diperoleh fakta sejarah yang terpercaya dan dapat digunakan dalam penelitian.

Setelah melalui tahap kritik, tahap selanjutnya adalah Interpretasi.Interpretasi dapat didefinisikan sebagai pemberian nilai makna, dan melakukan analisis terhadap fakta-fakta yang telah didapat.Fakta-fakta tersebut tidak semuanya dapat digunakan, karena hanya fakta yang setelah diintepretasi ternyata relevan sajalah yang dapat disatukan menjadi kisah sejarah. Oleh karena itu, cakupan tempat dan periodeisasi yang akan diteliti juga termasuk dalam proses interpretasi.

Tahapan terakhir dari metode sejarah adalah menghimpun fakta-fakta yang telah diintepretasi ke dalam suatu penulisan sejarah atau historiografi, dengan urutan yang sistematis.Historiografi sendiri didefinisikan sebagai suatu rekonstruksi yang berdasarkan fakta-fakta sejarah, dengan terlebih dahulu melalui metode sejarah (heuristik, kritik, interpretasi). Pada tahap ini, peneliti akan melakukan rekonstruksi terhadap dinamika perkembangan komunitas India di Jakarta dalam kurun waktu 56 tahun dari tahun 1955 sampai dengan 2011.

Kerangka Laporan Akhir Penelitian Sementara

Bab 1 Pendahuluan

1.1. Latar Belakang

1.2. Rumusan Masalah

1.3. Tujuan Penelitian

1.4. Keaslian Penelitian

1.5. Ruang Lingkup Penelitian

1.6. Metode Penelitian

Bab 2 Awal Kedatangan Orang India di Indonesia

Bab 3 Pendirian Gurdwara 1955 & Perkembangan Komunitas India di Jakarta

Bab 4 Komunitas India di Jakarta Sampai dengan 2011

Bab 5 Kesimpulan

 Daftar Pustaka

Buku
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto.(2009). Sejarah Nasional Indonesia jilid II (cetakan ketiga). Jakarta: Balai Pustaka
Sinar, Tengku Lukman. 2001. Sejarah Medan Tempo Doeloe (cetakan kedelapan).Tanpa penerbit.

Jurnal
Lubis, Zulkifli B. (2005). Kajian Awal tentang Komunitas Tamil dan Punjabi di Medan. Universitas Sumatera Utara: Jurnal Antropologi Sosial Budaya ETNOVISI .Vol. 1 , No.3, Desember 2005 .

Laman internet
Sikh Temple Gurdwara (Pasar Baru, Jakarta), http://www.jakarta100bars.com/2015/07/sikh-temple-gurdwara-pasar-baru-jakarta.html, diakses pada 1 juni 2016 pada pukul 20.30 WIB.
Tamil Community Forms New Cultural Association, http://www.thejakartapost.com/news/2011/08/15/tamil-community-forms-new-cultural-association.html-0, diakses pada 3 Juni 2016 pada pukul 10.10 WIB.
Tamil in Indonesia, http://tamilnation.co/diaspora/indonesia.htm, diakses pada tanggal 3 Juni 2016 pukul 10.10 WIB.
Tamil Sangam Formed in Indonesia, http://www.tamilguardian.com/article.asp?articleid=3360, diakses pada 3 juni 2016 pada pukul 10.10 WIB.

Catatan Kaki

[1] Tengku Lukman Sinar. Sejarah Medan Tempo Doeloe (cetakan kedelapan). 2001.

[2]Ibid.

[3]Sikh Temple Gurdwara (Pasar Baru, Jakarta), http://www.jakarta100bars.com/2015/07/sikh-temple-gurdwara-pasar-baru-jakarta.html, diakses pada 1 juni 2016 pada pukul 20.30 WIB.

[4]Tamil Community Forms New Cultural Association, http://www.thejakartapost.com/news/2011/08/15/tamil-community-forms-new-cultural-association.html-0, diakses pada 3 Juni 2016 pada pukul 10.10 WIB.

[5]Tamil Sangam Formed in Indonesia, http://www.tamilguardian.com/article.asp?articleid=3360, diakses pada 3 juni 2016 pada pukul 10.10 WIB.

Bonus
Ini ada beberapa foto Gurdwara Sikh Temple yang berlokasi di Pasar Baru, Jakarta Pusat. Gurdwara Sikh Temple ini merupakan salah satu tempat yang akan dijadikan lokasi penelitian.

26917

26915

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s