Menggali Kearifan Lokal Suku Rejang, Sebuah Kajian Singkat – I

Pendahuluan

Indonesia dikenal sebagai salah satu Negara dengan komposisi penduduk paling heterogen di dunia.Heterogenitas atau kemajemukan penduduk Indonesia dapat dilihat dari perbedaan suku bangsa, bahasa, dialek, agama dan atau kepercayaan yang dianut, adat istiadat, ras atau warna kulit, budaya dll.

1848532
Peta Persebaran Suku Bangsa di Indonesia (Diambil dari http://www.documentingalta.com/indonesia–pacific.html)

Ada lebih kurang 1.300 suku bangsa, 2.500 bahasa daerah dan dialek, 6 agama resmi dan puluhan aliran kepercayaan, dan 2 ras utama di Indonesia. Keberagaman yang telah disebutkan sebelumnya ditambah dengan pengalaman sejarah dan sebaran wilayah geografis yang juga beragam membuat penduduk Indonesia menjadi benar-benar heterogen atau majemuk.

Kondisi kependudukan atau masyarakat Indonesia yang heterogen acap kali dihadapkan pada pelbagai permasalahan yang berkaitan dengan heterogenitas itu sendiri.kerap kali dihadapkan oleh berbagaipermasalahan budaya, baik pada tingkat lokal, Permasalahan yang ada bukan hanya sebatas clash horizontal antar suatu kelompok dengan kelompok lain melainkan seiring berjalannya waktu perubahan yang tidak dapat dielakkan perlahan menjadi ancaman bagi nilai-nilai lokal suatu suku bangsa. Perubahan yang tidak dapat dielakkan ini berhubungan dengan makin mengglobalnya masyarakat dunia saat ini, menembus batas-batas Negara dan batas-batas alam (geografi).

Bila sebelumnya pengaruh globalisasi dirasa hanya terkait dengan ekonomi atau teknoloi, dengan proses mengglobalnya masyarakat dunia yang menembus batas-batas Negara dan batas-batas alam ternyata mempengaruhi aspek atau bidang kehidupan yang lain, termasuk bidang kebudayaan. Globalisasi tidak bisa selalu dipandang negatif, walaupun benar makin mengglobalnya masyarakat dunia memberi pengaruh yang signifikan pada bidang-bidang kebudayaan, di sisi lain membawa kemudahan-kemudahan yang tidak dapat kita jumpai pada kehidupan yang telah lalu (Madjid, 2009 : 1).

Globalisasi adalah suatu keadaan, tetapi juga suatu tindakan di mana aktivitas kehidupan tidak lokal dalam suatu negara tetapi mendunia (Sartini, 2004 : 119). Globalisasi merupakan suatu keniscayaan yang mau tidak mau harus diterima oleh seluruh umat manusia. Globalisasi membawa perubahan besar dalam banyak bidang kehidupan manusia.Perkembangan teknologi baik transportasi, informasi, komunikasi, ataupun digital membuat semua hal seakan menjadi serba mudah. Perkembangan teknologi transportasi membuat mobilitas manusia dari satu tempat ke tempat yang lain menjadi lebih mudah. Bila dahulu untuk pergi menunaikan ibadah haji harus memakan waktu berbulan-bulan dengan menggunakan moda transportasi kapal laut serta harus transit atau singgah di daerah-daerah seperti Sri Lanka atau Maladewa untuk mengumpulkan perbekalan, saat ini dengan kemajuan teknologi transportasi khususnya transportasi udara kita dapat mencapai kota Jeddah yang merupakan kota dengan bandara terdekat dari Mekkah hanya dalam tempo 12 jam saja. telah membawa perubahan besar dalam hidup seluruh umat manusia.

n-GLOBALIZATION-628x314
Ilustrasi Globalisasi (Diambil dari http://www.huffingtonpost.com/steven-cohen/moving-the-global-economy_b_9608622.html)

Perkembangan teknologi informasi, komunikasi, dan digital di era global membuat informasi lebih mudah diakses oleh siapa saja, kapan saja, dan di belahan dunia mana saja. Globalisasi sudah menjadi sebuah proses yang besar pada saat ini, sehingga yang terjadi tidak hanya sekadar proses sharing ofinformationyang semakin mudah, tetapi jauh lebih kompleksdari itu. Melalui sharing of information nilai-nilai apapun yang dianut atau dimiliki oleh suatu masarakat di suatu belahan dunia, dapat dengan mudah menjangkau dan bukan tidak mungkin diadopsi oleh masyarakat lain di belahan dunia yang lain pula. Padahal niai-nilai yang dimiliki oleh suatu masyarakat bisa jadi bertentangan dengan nilai-nilai lokal yang sudah tertanam sejak lama (Wikandaru, 2011 : 2).

Perbedaan suku bangsa, bahasa, dialek, agama dan atau kepercayaan yang dianut, adat istiadat, ras atau warna kulit, maupun budaya adalah bagian dari ciri masyarakat yang heterogen atau majemuk (Nasikun, 1995 : 28). Mengutip penjelasan Muhammad Ali bahwa “Pada kenyataannya, tidak ada keberagaman (baca:kemajemukan) yang benar-benar self-sufficient (cukup dengan sendirinya) dan benar-benar murni. Sepanjang sejarah, keberagaman/kemajemukan ini senantiasa mengalami dialektika antara diri manusia dan lingkungannya (Ali, 2003 : 77).

Heterogenitas budaya dan kemajemukan penduduk Indonesia, cenderung menjadikan kebudayaannya sebagai kerangka acuan bagi kehidupan sehari-hari,sekaligus mengukuhkan jati diri sebagai kebersamaan yang memiliki kekhasan tertentu.Namun, heterogenitas budaya dan kemajemukan penduduk tersebut memiliki banyak tantang.Kemungkinan untuk pecahnya konflik horizontal dengan pemicu berkisar pada suku bangsa, agama, ras dan antar golongan (SARA) cukup besar.

Kemungkinan pecahnya konflik horizontal karena persoalan perbedaan SARA sampai saat ini masih ada.Gesekan kepentingan antar kelompok yang berbeda dan intoleransi masih kental dalam kehidupan sosial masyarakat di IndonesiaHeterogenitas yang sejatinya berupa asset atau kekayaan tersebut acap kali tidak disikapi sebagai anugerah yang patut disyukuri dan dihargai keberadaannya. (Azra, 2007 : 5). Gesekan kepentingan yang berbeda membuat pandangan satu kelompok terhadap kelompok lainnya terkadang dipenuhi prasangka, sikap bias, memandang rendah, dan kebencian.Sejatinya, rasa bangga terhadap kepunyaan kelompok masing-masing seperti kebanggaan pada aspek bahasa bukanlah hal yang buruk.Tetapi, rasa bangga yang lebihan menggiring manusia bersikap primordial.

Dalam masyarakat yang heterogen atau majemuk sebagaimana keadaan bangsa Indonesia, sangat sulit bahkan mustahil untukmengesampingkan heterogenitas yang ada karena tiap-tap kelompok maupun sub kelompok memiliki identitas budaya dengan kekhasan masing-masing yang sulit untuk ditunggalkan, meskipun dalam konteks tampil sebagai satu bangsa dan satu Negara, kerap kali satu ciri kebudayaan nasional saja yang muncul.Mencermati realitas kemajemukan masyarakat dengan budaya yang heterogen dan yang sudah tidak sejalan dengan pemahaman dan kesadaran akan hakikat kebersamaan sebagai satu bangsa dan satu negara, maka perlu digali kembali nilai-nilai kearifan lokal yang ada disetiap daerah untuk dijadikan sebagai perekat integrase dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Meskipun istilahnya adalah kearifan lokal, kearifan lokal ruang lingkupnya bisa saja meluas, tidak sebatas lokal atau di sekitar masyarakat empunya kearifan lokal yang dimaksud. Nilai kearifan lokal terebutbisa jadi dapat diterima oleh masyarakat di daerah lain sepanjang tidak bertentangan dengan nilai-nilai lokal yang asli  di masyarakat tersebut. Kearifan lokal juga memiliki peluang untuk menjadi solusi bagi persoalan yang berdimensi pluralistik yang kerap memicu disharmoni hubungan antar satu kelompok dengan kelompok lain dalam bingkai masyarakat Indonesia yang majemuk. Nilai-nilai kearifan lokal saat ini dipelajari dan dikaji sebagai titik balik akibat kekecewaan manusia terhadap globalisasi yang ditunggangi oleh kapitalisme serta memungkinkan kolonialisme gaya baru (Siswanto, 2009 : 46).

Kearifan Lokal

Dalam pengertian kamus, kearifan lokal (local wisdom) terdiri atas dua kata, yaitu kearifan (wisdom) dan lokal (local).Kata kearifan dapat didefinisikan sebagai bentuk kebijaksanaan atau kecendekiaan, sementara kata lokal dapat didefinisikan sebagai lingkup setempat..Secara umum maka kearifan lokal (local wisdom) dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya.

Kerarifan lokal sendiri baru menjadi wacana di masyarakat sekitar tahun 1980-an, ketika nilai-nilai budaya lokal yang turun temurun dimiliki dan diwariskan masyarakat Indonesia dari satu generasi ke generasi lain sudah hambir habis tergerus arus modernisasi yang menjadi kebijakan dasar pembangunan ekonomi nasional yang dilaksanakan rezim Orde Baru. Modernisasi dan mudahnya akses informasi serta cepatnya proses masyarakat untuk mengglobal, ditambah oleh semangat nasionalisme yang hendak mengatur agar di seluruh Indonesia kehidupan masyarakat seragam oleh rezim Orde Baru makin membuat posisi nilai-nilai lokal terkesampingkan. Akibatnya kekayaan budaya lokal baik berupa kesenian, sastra, hukum adat, dan lain-lain banyak hilang, sehingga dikemudian hari tidak lagi dikenali oleh generasi penerus masyarakat pendukung kebudayaan itu sendiri serta tidak lagi dapat digunakan sebagai pelengkap kekayaan budaya nasional (Rosidi. 2011: 35-36).

Kearifan lokal sendiri merupakan bagian inheren dan tak terpisahkan dari suatu kebudayaan dan masyarakat pendukungnya, oleh karena itu untuk memahami kearifan lokal membutukan pemahaman terhadap kebudayaan masyarakat itu sendiri.Pada masa kini kearifan lokal menjadi kecenderungan umum masyarakat Indonesia yang telah menerima otonomi daerah sebagai bentuk desentralisasi administrasi.Membangkitkan nilai-nilai kearifan lokal untuk kepentingan pembangunan di daerah sangat bermakna bagi perjuangan daerah untuk mencapai prestasi terbaik.Pemaknaan tentang kearifan lokal (local wisdom) sering digunakan secara bergantian atau saling isi mengisi dengan konsep-konsep lain yang terkait misalnya konsep pengetahuan lokal (local knowledge) atau kecerdasan lokal (local genius).

Dalam disiplin ilmu antropologi dikenal istilah local genius.Local genius ini merupakan istilah yang mula pertama dikenalkan oleh Quaritch Wales.Para antropolog membahas secara panjang lebar pengertian local genius.MenurutHaryati Soebadio,localgenius adalah juga cultural identity, identitas/kepribadian budaya bangsa yang menyebabkan bangsa tersebut mampu menyerap dan mengolah kebudayaan asing sesuai watak dan kemampuan sendiri (Ayatrohaedi,1986:18-19). Berkaitan dengan pendapat Haryati Soebadio mengenai kemampuan suatu bangsa atau masyarakat dalam menyerap dan mengolah kebudayaan asing sesuai watak dan kemampuan sendiri, Moendardjito (dalam Ayatrohaedi, 1986:40-41) mengatakan bahwa unsur budayadaerah potensial sebagai local genius apabila telah teruji kemampuannya untukbertahan sampai sekarang dengan ciri-ciri sebagai berikut:

  1. mampu bertahan terhadap budaya yang masuk dari luar
  2. memiliki kemampuan untuk mengakomodasi unsur-unsur budaya luar
  3. mempunyai kemampuan mengintegrasikan unsur budaya luar ke dalam budaya asli sesuai watak dan kemampuan sendiri
  4. mempunyai kemampuan mengendalikan, serta
  5. mampu memberi arah pada perkembangan budaya masyarakat itu sendiri..

Kearifan lokal sebagai wujud manifestasi kebudayaan yang terjadi dengan penguatan-penguatan dalam kehidupannya menunjukkan salah satu bentuk humanisasi manusia dalam berkebudayaan. Artinya sebagai manifestasi humanitas manusia, kearifan lokal dianggap baik sehingga ia mengalami penguatan secara terus menerus (Sartini, 2004 :115).Lebih lanjut, kearifan lokal merupakan kebijaksanaan manusia yang bersandar pada filosofi nilai-nilai, etika, cara-cara dan perilaku yang melembaga secara tradisional. Kearifan lokal adalah nilai yang dianggap baik dan benar sehingga dapat bertahan dalam waktu yang lama dan bahkan melembaga.Kearifan pada dasarnya teruji secara alamiah dan bernilai baik, karena kearifan yang merupakan bentuk refleksi dari kebiasaan turun temurun suatu masyarakat merupakan tindakan sosial atau pengalaman yang mengalami penguatan (reinforcement) karena telah terjadi secara berulang-ulang. Apabila suatu tindakan tidak dianggap baik oleh masyarakat maka hal tersebut tidak akan mengalami penguatan secara terus-menerus. Penguatan oleh masyarakat niscaya terjadi secara sukarela karena dianggap mengandung kebaikan. Adat yang tidak baik akan hanya terjadi apabila ada pemaksaan oleh penguasa.

site_1194_0011-360-360-20151110164642
Sistem Subak dan Persawahan di Bali, Cerminan Konsep Tri Hita Karana (Diambil dari http://whc.unesco.org/en/list/1194/gallery/)

Tulisan Pola Perilaku Orang Bali Merujuk Unsur Tradisi, memberikan informasi tentang beberapa fungsi dan makna kearifan lokal, yaitu:

  1. Berfungsi untuk konservasi dan pelestarian sumber daya alam, hal ini dapat dilihat pada filosofis Tri Hita Karana dan sistem subak
  2. Berfungsi untuk pengembangan sumber daya manusia, misalnya berkaitan dengan upacara daur hidup dengan konsep kanda pat rate
  3. Berfungsi untuk pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan, misalnya pada upacara Saraswati
  4. Berfungsi sebagai petuah, kepercayaan, sastra dan pantangan
  5. Bermakna sosial misalnya upacara integrasi komunal/kerabat
  6. Bermakna sosial, misalnya pada upacara daur pertanian
  7. Bermakna etika dan moral, yang terwujud dalam upacara Ngaben dan penyucian roh leluhur
  8. Bermakna politik, misalnya upacara ngangkuk merana dan kekuasaan patron client

Dari penjelasan fungsi-fungsi tersebut tampak betapa luas ranah kearifanlokal, mulai dari yang sifatnya sangat teologis sampai yang sangat pragmatis dan teknis.

Bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close