Menggali Kearifan Lokal Suku Rejang, Sebuah Kajian Singkat – II

Nilai-Nilai Kearifan Lokal Suku Bangsa Rejang

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa tiap-tiap masyarakat memiliki kebudayaannya masing-masing. Dalam kebudayaan itulah terkandung nilai kearifan lokal yang telah melembaga. Suku bangsa Rejang adalah salah satu dari sekian banyak kelompok suku bangsa yang mendiami provinsi Bengkulu dan sebagian desa di provinsi Sumatera Selatan.

Screenshot_2
Bangunan Vernakular Suku Rejang, yang Menurut Penelitian dari SAPPK ITB Memiliki Kaidah Kekuatan Tahan Gempa (Diambil dari localwisdom.ucoz.com/_id/0/7_2nd-1-jowl-suge.pdf)

Bentuk kearifan lokal masyarakat suku bangsa Rejang beragam, mulai dari bentuk atau desain bangunan vernakuler atau khas, sampai pada petuah-petuah yang sarat hikmah, nilai-nilai kebijaksanaan dan ajaran-ajaran nilai filosofis dalam mengajak masyarakatnya untuk menghargai hidup dengan berbagai aspek kehidupannya, termasuk cinta terhadap alam, kepada Sang Pencipta, kepada sesama manusia juga penghargaan terhadap nilai-nilai keberagaman yang termasuk salah satu unsur nilai kearifan lokal. Apa yang diungkapkan di dalam petuah-petuah adat termasuk di dalamnya petuah suku bangsa Rejang merupakan proses karya budaya yang panjang dan berisi pengalaman yang intens dari masyarakat pemilik atau pendukung budaya tersebut, serta memiliki hubungan batin dengan para pewarisnya.

 

Pada paper ini, kearifan lokal suku bangsa Rejang yakni desain bangunan vernakuler dan petuah-petuah menjadi objek material yang akan ditelaah, guna mengungkap dimensi kearifan lokal serta nilai filosofiss yang terkandung di dalamnya. Petuah-petuah mengandung nilai kebaikan yang terwujud di masyarakatnya secara perlahan dan terus menerus. Petuah-petuah dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat pendukungnya. Hanya saja, seiring perkembangan zaman, kearifan lokal perlahan memudar dan generasi masa kini dalam hal ini generasi muda suku bangsa Rejang mulai terpisah dan tidak kenal dengan nilai-nilai yang arif pada kearifan lokal dan petuah yang berkembang di masyarakat.

Kaganga
Huruf Kaganga yang Berjenis Abugida Diperkirakan Berasal dari Turunan Huruf Brahmi, adalah Huruf Asli untuk Menuliskan Bahasa Rejang (Dokumentasi Pribadi)

Suku bangsa Rejang sejatinya telah mengenal tradisi menulis yang dibuktikan dengan adanya huruf Kaganga atau dalam bahasa Rejang dikenal sebagai su’et ulau. Seiring memudarnya tradisi di masyarakat Rejang, tradisi menulis menggunakan huruf Kaganga pun memudar dan kemudian berhenti sama sekali penggunaannya. Akibatnya generasi sekarang tidak dapat membaca lembaran-lembaran yang tertulis dalam huruf Kagana, ketidakmampuan menggunakan huruf Kaganga telah menjadi faktor mengapa nilai kearifan lokal dari generasi terdahulu kemudian tidak tersampaikan kepada generasi Rejang masa sekarang.

 

Istilah Taneak Tanai adalah istilah yang turun temurun dipakai oleh suku bangsa Rejang yang merujuk pada daerah kediaman mereka, Tanah Rejang, yang merupakan sebagian daerah di provinsi Bengkulu yang terbentang dari pesisir kabupaten Bengkulu Utara sampai ke kaki Bukit Barisan dan 7 desa di provinsi Sumatera Selatan. Taneak Tanai juga bisa dipakai sebagai sebutan untuk hamparan tanah dalam lingkup komunitas adat suku bangsa Rejang yang dimiliki secara komunal dan biasanya ada bagian wilayah kelola warga secara individu. Konsekuensi pengelolaan tanah Taneak Tanai oleh individu yakni kewajiban untuk menanam tanaman-tamanan keras yang bernilai konservasi dan ekonomi seperti petai, durian, dan lainnya sebagai tanda wilayah tersebut dikelola oleh seseorang atau keluarga tertentu. Suku bangsa Rejang dengan telah memiliki pengetahuan-pengetahuan lokal yang ada sejak dahulu, pun nilai-nilai lokal telah dikenal masyarakat ini mengingat sejarah suku bangsa Rejang itu sendiri yang diceritakan berasal dari satu nenek moyang kemudian masing-masing keturunan moyang tersebut terpencar-pencar pada wilayah yang relative bergunung-gunung. Meskipun demikian, keturunan moyang yang telah terpencar-pencar tersebut tetap merupakan satu kesatuan. Representasi dari nilai kearifan dan atau pengetahuan lokal ini terdapat dalam corak ragam petuah masyarakat Rejang yang mewadahi pola pikir, sistem pengetahuan, pranata sosial, serta falsafah hidup yang dijadikan sebagai pedoman hidup masyarakat Rejang.

Petuah-petuah suku bangsa Rejang mengandung nilai filosofis yang menempatkan masyarakat Rejang dalam hubungannya dengan sesama manusia, dengan alam, dan dengan kekuatan gaib (keilahian). Hal itu tercermin dari petuah pegong pakei adat cao beak nioa pinang (secara harfiah berarti pegang dan pakai adat seperti di bawah pohon pinang) dan berutun awei jalo (secara harfiah berarti beruntun bagai jala ikan), keduanya merupakan suatu bentuk nilai kearifan suku bangsa Rejang terhadap sesama manusia. Pegong pakei adat cao beak nioa pinang mengindikasikan manusia untuk menjunjung persatuan dalam hal ini hubungan baik atau harmoni dengan sesama manusia. Berutun awei jalo menandakan bahwa manusia terutama masyarakat suku bangsa Rejang sebagai kelompok yang memiliki nenek moyang atau leluhur yang sama haruslah seperti jala ikan, walaupun terhampar luas di perairan namun tetap satu kesatuan. Ada pula petuah ali bilai yakni petuah yang menyerukan agar masyarakat tetap memeliharan gotong royong dalam menyelesaikan salah satu pekerjaan warga secara bergiliran sehingga meringankan beban dan menjadi ajang silaturrahmi.

Screenshot_1
Ilustrasi Garuda Pancasila. Tampak pada Gambar terdapat Padi dan Kapas, Perlambang Sila Kelima Pancasila (Dokumentasi Pribadi)

Masih berkaitan dengan hubungan antar sesama manusia, suku Rejang mengenal petuah Amen bebagiak samo kedau, ameun betimbang samo benek, amen betakea samo rato. Amen bebagiak samo kedau, ameun betimbang samo benek, amen betakea samo rato berarti kalau berbagi harus sama banyak, kalau menimbang harus sama beratnya, kalau menakar harus sama rata.  Konsep tersebut kalau kita kaitkan dengan nilai Pancasila, maka cocok dengan sila ke 5 yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dalam melakukan pembagian, misalnya pada suatu sengketa antar dua individu atau dua keluarga haruslah adil dan sama banyak.

 

Petuah-petuah dan kearifan lokal dari suku bangsa Rejang yang mengandung nilai filosofis dan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga alam atau lingkungan, antara lain sebagai berikut:

  1. Undang-Undang Simbur Cahayo, meskipun undang-undang ini dibuat oleh Belanda dan kemudian dilakukan beberapa perubahan di dalamnya adalah salah satu sumber undang-undang adat yang tertulis yang selalu dijadikan sebagai rujukan dalam penyelesaian sengketa yang terjadi di pada masyarakat Rejang marga Jurukalang
  2. Utan atau Imbo Piadan, ini penyebutan untuk hutan yang dipercayai ada penunggu gaib sehingga ada beberapa prasyarat untuk membuka kawasan ini jarang ada warga yang berani membuka hutan larangan ini. Dengan tidak dibukanya hutan oleh masyarakat, lingkungan alam menjadi lestari dan tidak terjadi bencana.
  3. Mengeges adalah kebiasaan masyarakat Rejang marga Jurukalang membersihkan lahan garapannya dengan dibakar, mengeges ini sebenarnya untuk mencegah jangan sampai api tersebut melalap kemana-mana, dalam proses pembakaran lahan biasanya dilakukan secara gotong royong.
  4. Bo atau Siloadalah sejenis tanda larangan atau tanda hendak memiliki hasil hutan yang masih belum menghasilkan, yaitu sebatang bambu yang ditusukkan ke tanah yang bagian atasnya dipecah dua dan di antara pecahan itu disisipkan sebatang bamboo yang lain.
  5. Sakea, tanah garapan yang telah membentuk hutan kembali. Sesuai petuahnya, sakea disengajakan karena tanah pada suatu saat akan habis masa suburnya, dan perlu beberapa waktu untuk mengembalikan kesuburan tanah garapan tersebut. Selama sekian waktu, tanah garapan akan menjadi hutan kembali. Konsep ini sering disebut sebagai ladang berpindah.
  6. Jamai, kurang lebih sama dengan sakea. Lahan garapan akan ditinggalkan setelah musim tuai dan disengaja ditinggalkan supaya menjadi hutan kembali.
  7. Menikenadalah kegiatan ritual atau kenduri untuk pembukaan lahan yang akan dibuka untuk dijadikan lada atau lahan garapan.

Selain beberapa petuah dan kearifan lokal di atas, ada beberapa larangan lain yang masih bersangkutan dengan lingkungan atau alam di sekitar masyarakat Rejang itu sendiri. Kayu yang jika ditebang kemudian membentuk jembatan di dua sisi mata air maka kedua sisi tersebut dilarang untuk digarap, ada kepercayaan local yang jika di garap akan menimbulkan bahaya dan bencana bagi pemiliknya, dalam sistem konservasi modern kedua sisi itu dikenal dengan garis sempadan sungai. Begitu juga dengan lahan yang ketika kayu-kayunya ditebang akan meluncur jauh akibat lerengan yang terjal juga dilarang untuk digarap, wilayah-wilayah Telun atau air terjun juga dilarang untuk di kelola oleh warga komunitas karena dipercayai adanya pengaruh gaib di sekitar wilayah tersebut. Larangan menggarap daerah lereng yang terjal atau di sekitar air terjun bila kita kaji sebenarnya karena daerah-daerah tersebut adalah daerah tangkapan air dan bila digarap dan ditanami tanaman seperti palawija bisa memicu longsor atau banjir.

Penebangan pohon sialang adalah pantangan berat untuk ditebang, jika ditebang akan dikenakan denda setengah dari denda membunuh orang, begitu juga dengan menebang pohon-pohon di sekitar pohon sialang dianggap juga sebagai pantangan adat, sialang dianggap sebagai hak komunal dan ketika panen maka biasanya diketahui oleh seluruh masyarakat komunitas dan ada bagian tertentu dari hasil panen yang tidak boleh diambil dan dibiarkan tinggal di sekitar pohon karena dianggap itu adalah hak penunggu gaib dari pohon, proses panennya pun diiringi oleh nyayian-nyayian pujian baik pujian terhadap kayu maupun pujian maupun pujian terhadap penunggunya.

 

Screenshot_3
Prosesi Kedurai Agung (Diambil dari http://rakep.wordpress.com/2014/05/22/kedurei-agung-di-kota-curup/)

Kemudian daripada itu, kearifan lokal dan atau petuah suku bangsa Rejang yang menunjukkan hubungan antar manusia dengan nilai keilahian adalah kedurai. Kedurai selain merupakan petuah juga adalah salah satu tradisi yang dipercayai sebagai wadah komunikasi antara manusia dengan kekuatan gaib, ada beberapa jenis kedurai yang sering dilakukan oleh masyarakat Rejang marga Jurukalang, kedurai untuk membuka lahan perkebunan di hutan di suatu wilayah tertentu adalah proses permintaan izin dan keselamatan bagi yang mengelolanya. Kedurai agung biasanya dilakukan ketika ada teguran oleh alam gaib dalam bentuk Bumai Panes, proses kedurai ini dilakukan oleh dukun yang disebut dengan Pawang, sarana-sarana lain yang harus dipersipakan juga dalam proses ini adalah anyaman bambu untuk dibuat acak, yaitu wadah untuk sesajen. Sesajen untuk ritual itu meliputi darah ayam betina (daleak monok bae) yang disimpan di mangkuk, minyak goreng, minyak Manis, sirih matang, sirih mentah, 99 jeruk nipis, 99 batang rokok, serta tiga jenis bunga (mawar, cempaka gading, dan cepiring). Bahan lainnya yang juga dipergunakan untuk ritual itu antara lain 198 butir beras kunyit, kue tepung beras (sabai), benang tiga warna (putih, merah, dan hitam).

 

 

Rumah khas Rejang merupakan salah satu langgam atau style rumah tradisional di wilayah Bengkulu. Rumah khas Rejang dikenal sebagai Umeak Potong Jang atau UmeakAan yang dipengaruhi oleh bentuk rumah Meranjat (bentuk rumah suku bangsa yang ada di Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan). Bangunan rumah khas Rejang ini menggunakan material kayu setempat (kayu medang kuning, medang batu, balam dll) dan beberapa tambahan bagian bangunan menggunakan bambu (bambu serik, bambu menyan, bambu dabuk) untuk lantai bangunannya.

Screenshot_4
Umeak Potong Jang alias Umeak An yang Telah Dipadu dengan Teknologi Bangunan Semi Permanen (Dokumentasi Pribadi)

Lantai bangunan ditopang oleh kolom atau tiang-tiang dari balok kayu. Dinding bangunan dibuat dari papan kayu. Untuk penutup atap menggunakan seng. Semua sistem sambungan komponen-komponen struktur bangunan dan konstruksi bangunan menggunakan sistem sambungan papurus, laki-betina (betino-lanang), tidak menggunakan paku (kecuali pada penutup lantai dan sebagian dinding) tetapi memakai pasak dari kayu atau bambu. Dinding menggunakan papan kayu yang dijepit atas bawah dan pada bagoan tertentu, seperti bagian dapur sudah menggunakan paku.

Wilayah Bengkulu termasuk di dalamnya Taneak Jang atau Tanah Rejang merupakan wilayah yang sangat sering terjadi gempa sehingga dimasukkan ke dalam wilayah 5 dan 6 di dalam peta wilayah gempa di Indonesia. Hal ini dikarenakan Bengkulu merupakan area pertemuan tiga lempeng, yaitu lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik. Semua lempeng tersebut masih aktif bergerak, sehingga tidak menutup kemungkinan sering terjadi gempa. Bangunan rumah rakyat Rejang sebagai bentuk kearifan lokal suku bangsa Rejang yang dibuat dengan proses trial and error khususnya dengan respon terhadap kejadian-kejadian alam seperti gempa.

Kaidah-kaidah perancangan bangunan rumah tahan gempa menurut Boen (1978) antara lain, sebagai berikut:

  1. Denah bangunan berbentuk sederhana dan simetris
  2. Dinding-dinding penyekat di dalam bangunan dibuat teratur susunannya serta simetris, 3. Bidang dinding sebaiknya tidak berdiri sendiri tetapi merupakan bidang dinding yang ujung-ujungnya terikat dengan dinding lain atau kolom
  3. konstruksi atap menggunakan bahan yang ringan, dan rangka kuda-kuda atap menempel kuat pada dinding maupun kolom yang berfungsi sebagai tumpuan
  4. Pondasi terletak pada tanah padat, rata
  5. Adanya kolom atau tiang-tiang yang saling terhubung (ada pengikat)
  6. Adanya perkuatan-perkuatan pada pertemuan-pertemuan tiang (kolom), balok cincin, dll.

9) adanya kait/ jangkar antara dinding dan tiang.

Sedangkan menurut Gutierrez (2004), kaidah perancangan bangunan rumah tahan gempa ada empat, yaitu:

  1. Denah atau bentuk bangunan harus sederhana dan simetris
  2. Material yang digunakan harus ringan
  3. Sistem sambungan harus rigid dan fleksibel
  4. sistem struktur dan konstruksi yang menyatu, terutama pada struktur atap, dinding, dan pondasi.

Aspek atau kaidah perancangan gempa yang disampaikan oleh Gutierrez disebut sebagai indikator yang mempengaruhi bangunan vernakuler termasuk rumah khas Rejang sehingga dapat tahan terhadap gempa, dan inilah yang disebut pula sebagai indigenous knowledge bangunan vernakular merespon gempa.

Penutup

Kearifan lokal merupakan kebijaksanaan manusia dan komunitasnya yang bersandar pada filosofi, nilai-nilai, etika, cara, dan perilaku yang melembaga secara tradisional untuk mengelola sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya budaya secara berkelanjutan. Kearifan lokal itu tidak muncul serta-merta, tapi berproses panjang sehingga akhirnya terbukti, hal itu mengandung kebaikan bagi kehidupan masyarakat lokal setempat. Keterujiannya dalam sisi ini membuat kearifan lokal menjadi budaya yang mentradisi, melekat kuat pada kehidupan masyarakat. Dalam bingkai kearifan lokal ini, masyarakat bereksistensi satu dengan yang lain. Berbagai gagasan konseptual yang hidup dalam masyarakat, tumbuh dan berkembang secara terus-menerus dalam kesadaran masyarakat, berfungsi dalam mengatur kehidupan masyarakat dari yang sifatnya yang berkaitan dengan kehidupan yang sakral sampai yang profan. Dalam kearifan lokal suku bangsa Rejang terdapat seperangkat nilai, norma, dan perlikau yang dilakukan masyarakatnya dalam upaya mengelola kehidupan.

Beberapa bentuk kearifan lokal suku bangsa Rejang yang tertuang dalam bentuk petuah-petuah dan rumah khas Rejang menunjukkan bahwa suku bangsa Rejang telah mengalami humanisasi dalam perjalanan sejarahnya, petuah dan rumah khas Rejang menggambarkan hubungan antara suku bangsa Rejang dengan sesama manusia, dengan alam, dan hubungannya dengan nilai keilahian. Di masa otonomi daerah yang lebih luas sebagai bentuk desentralisasi administrasi, kearifan lokal suku bangsa Rejang yang mengandung nilai-nilai filosofis yang positif menurut saya akan sangat berguna bagi pembangunan daerah yakni tanah Rejang khususnya dan Bengkulu secara umum. Kearifan lokal yang mengatur hubungan sesama manusia diharapkan dapat meminimalisasi konflik horizontal di Bengkulu dan mampu membawa manusia-manusia Bengkulu dan suku bangsa Rejang tentunya untuk berkolaborasi mencapai kejayaan dan membangun daerah yang berprestasi. Kearifan lokal suku bangsa Rejang yang mengatur hubungan manusia dengan alam dan lingkungan sekitar bila dikembangkan dan diterapkan secara baik akan menjaga lingkungan tetap lestari, mencegah bencana akibat alih fungsi hutan, serta menyisakan kekayaan hutan demi anak cucu nanti. Kearifan lokal suku bangsa Rejang yang mengatur hubungan dengan nilai keilahian atau hal gaib diharapkan membuat manusia-manusia Rejang dapat menjadi manusia yang menghargai pihak lain dan tidak bersikap sombong dalam hubungannya dengan nilai keilahian atau hal gaib yang dinilai dapat mencelakakan. Dan yang terakhir bangunan rumah khas Rejang dapat dipakai sebagai model rumah tahan gempa di provinsi Bengkulu yang rawan gempa sehingga dapat meminimalisasi  jumlah korban apabila terjadi gempa besar seperti yang melanda Bengkulu pada 1979 dan 2008.

Daftar Pustaka

Ali, M. 2003, Teologi Pluralismultikultural: Menghargai Kemajemukan Menjalin Kebersamaan. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Ayatrohaedi. 1986. Kepribadian Budaya Bangsa (local Genius). Jakarta: Pustaka Jaya.

Azra, Azyumardi. 2007. Merawat Kemajemukan, Merawat Indonesia. Yogyakarta: Kanisius.

Bakker, J.W.M. 2005. Filsafat Kebudayaan, cetakan ke-15. Yogyakarta: Kanisius.

Majid, Bakhtiar. 2009. Revitalisasi Tradisi Sastra Lisan Dola Bololo Dalam Masyarakat Kesultanan Ternate: Sebuah Kajian Budaya. Tesis, Program Studi Kajian Budaya, Universitas Udayana, Bali.

Moertopo, Ali. 1978. Strategi Pembangunan Indonesia. Jakarta: CSIS.

Laman internet

https://akarfoundation.wordpress.com/2011/11/09/melirik-kearifan-lokal-suku-rejang-jurukalang-dalam-tata-kelola-hutan/  (diakses pada tanggal 1 Juni 2016 pukul 10.24 WIB).

http://www.kompasiana.com/berangberang/menapak-jejak-sejarah-suku-rejang_55009945a33311376f511955 (diakses pada tanggal 1 Juni 2016 pukul 10.24 WIB).

http://kupasbengkulu.com/tradisi-suku-rejang-cukur-anak-sulung-suami-gundul (diakses pada tanggal 1 Juni 2016 pukul 10.24 WIB).

http://www.pnri.go.id/magazine/eksplorasi-kearifan-lokal-bali/ (diakses pada tanggal 1 Juni 2016 pukul 10.24 WIB).

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s